Perubahan Sosial dan Pembangunan

FRANCIS Fukuyama, penulis buku The End of History and The Last Man (1992), Trust (1995) dan The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999), sungguh merangsang pemikiran dan pemahaman tentang —kalaulah dapat dikatakan demikian— perubahan sosial. Setidaknya dalam fenomena ‘kekinian’ berbau futuris.

Social Change

Untuk buku terbaru Fukuyama (edisi bahasa Indonesia, 2005), Guncangan Besar, Rizal Malarangeng dengan cantik menulis: Dalam ilmu sosial, perubahan sosial adalah sebuah tema klasik yang selalu menarik untuk dibahas. Setelah menyitir Ferdinand Tonnie, Emile Durkheim dan Max Weber, kata Rizal, Fukuyama mencoba meneruskan tradisi keilmuan semacam itu dengan melihat apa yang terjadi pada paruh kedua Abad 20.
Minat saya terhadap perubahan sosial dimulai pada tahun-tahun pertama kuliah (1976) melalui buku klasik, Pengantar Sosiologi, Soerjono Soekamto. Kemudian berkenalan dengan yang lebih merangsang, Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism … Max Weber. Akarnya didapat dari tesis klasik Arnold Toynbee, Chalange and Response yang kesohor itu. Tersebab itu, mata kuliah sosiologi pendidikan menjadi minat khusus ketika belajar pengembangan kurikulum di S2.
Dari situ, karena masyarakat adalah ‘kumpulan’ individu, mau tidak mau belajar psikologi dan psikokultural. Weber (1958) menggugah dengan ‘calling’, David McCleland (1961) dengan Need for Achievement (nAch), Alex Inkeles dengan Modernitation of Man (Myron Warner, 1966) dan beragam pakar lainnya. Ditambah misalnya Gunnar Myrdal dengan Asian Drama (1968) atau Alvin Toffler dengan buku-buku futurisnya sampai bahasan Macan Asia sebagai the Newly Industrial Countries (NICs), dahaga intelektual bermuara pada Koentjaraningrat dan sebagainya pada pola pembangunan Indonesia.
Sungguh meguncang pemikiran tentang perubahan sosial dan pembangunan. Terakhir ‘terpedaya’ Piotr Sztompka melalui The Sociology of Social Change (1993). Pada kata pengantar bukunya ditulis: Kajian perubahan sosial merupakan inti sosiologi. Hampir semua kajian sosiologi berkaitan dengan perubahan sosial.
Lebih mengagetkan, peletakan kajian yang berbau historis sampai pada puncaknya pada bab terakhir buku sebagai pengunci, Sztompka memapar dengan gamblang, Revolusi: Puncak Perubahan Sosial. Pada suasana ‘kebatinan’ tersebut, Wahyu, Doktor dari universitas Padjajaran yang dosen FKIP Unlam menghadiahi buku Perubahan Sosial dan Pembangunan (2005).

Ramai Rasanya Sebetulnya, ketika Wahyu, meeditori buku Pengantar Ilmu-Ilmu Sosial (1995) secara kritis saya bahas dengan beking lebih 50 buku penunjang. Sebelas tahun kemudian (2006) diminta lagi membahas bukunya. Celakanya, buku-buku sosiologi saya banyak yang hilang, dipinjam dan tidak dikembalikan (oleh siluman kali ye, he … he …). Tapi tak mengapalah.
Pada Pendahluan Wahyu meintrodusir memuji ‘keberhasilan’ pembangunan nasional era PJPT I dengan membuahkan masalah baru. Diantaranya, persoalan yang dihadapi pada PJPT II, kesenjangan atau ketimpangan antardaerah, antarsektor, antarusaha, dan antargolongan pendapatan dalam masyarakat (p.xiv).
Pada Bagian Teori Perubahan Sosial (I), Pengertian Perubahan Sosial (A) dipapar sangat akademik, enak dibaca dan mudah dipahami. Hal sama pada Teori Perubahan Sosial (B): teori evoluioner, siklus, fungsional dan konflik. Sekalipun bisa saja dipertanyakan, bagaimana dengan teori lainnya. Atau, kalau ada teori evolusioner bagaimana dengan ‘gagasan’ Sztompka tentang puncak perubahan sosial adalah revolusi? Sampai Sumber-Sumber Perubahan Sosial (C), Efek-efek Perubahan Sosial (D) dan Hasil-hasil Penelitian Tentang Poerubahan Sosial (D), masih aman-aman saja.
Memasuki Bagian Dinamika Pembangunan (2), mulai ‘terkecoh’. Menukik ke Menyoal Bangsa Indonesia (A) terus ditancap ke politik lokal, sampai pada Kepemimpinan dalam Masyarakat Multikultural (I). Sangat disayangkan kenapa tidak dihidangkan dasar teoritiknya. Tetapi tergembira, oh … kalau awalnya berpretensi sebagai buku teks kini lebih dihidangkan paparan populer.
Kalaulah lebih tajam dibeking, misalnya, kajian Alvin Toffler, mengsehadapkan dengan reformasi paska Orde Baru akan sangat menarik. Betapa tidak, dari tiga revolusi kehidupan, perubahan sosial dahsyat dalam bentangan historis, dari masyarakat peramu ke pertanian, dari pertanian ke industri, dari industri ke informasi, dimana sih posisi Indonesia?
Perubahan konkret apa sih sebagai buah reformasi yang dapat dikategorikan perubahan sosial (besar dan mendasar)? Kalaulah misalnya sistem paternalistik masih dominan, ama aja boong. Perlu barangkali disimak tentang apa yang dinamakan ‘modal sosial’. Jangan-jangan, dalam kerangka Tonnies (1955), masyarakat kita masih gesellschalft, baru menyentuh gemeinnschalft, belum menjadikan UU atau peraturan sebagai ‘pegangan’, masih terpaku hubungan kekeluargaan dan pribadi. Mana tahu lho.
Ibarat lari, Wahyu suka melompat-lompat, melompat berirama sekalipun tetap membawa beban untuk dicerna. Kalau beramsal makanan, lidah merasakan kecut, asin, manis, terkadang pedas. Rupa-rupa rasa tercicip. Asyik juga. Tidak lupa dengan canda, ada pengulangan misalnya untuk pilahan B dan C. Belum lagi sajian rada-rada mirip untuk berbagai bahasan. Bak iklan permen nano-nano, ramai rasanya.

Air Mata Darah PendidikanMemasuki Bab Pendidikan: Suatu Tinjauan Sosiokultural, jujur saja saya agak kecewa. Tidak ditemukan hal-hal fundamental. Misalnya sajian filosofis, aliran, pemikiran pembaharuan pendidikan dan hal-hal mendasar lainnya. Rupanya Wahyu terkesan hal remeh-remeh. Remeh-remeh yang merangsang berpikir, semisal ikan bushido, anjing buldog, samuel undong, sampai yang agak serius roh pendidikan.
Sebagai orang yang membaca puluhan, kalaulah tidak ratusan, buku pendidikan, sebenarnya salut atas keberanian ungkapannya yang garang. Jangan-jangan tulisannya lebih garang dari ratusan artikel saya di media cetak. Betul-betul panorama pemantik pikiran, bukan paparan akademik tentang pendidikan.
Hal ini perlu diketengahklan karena judul bukunya, Perubahan Sosial dan Pembangunan. Sangat akademik. Tapi, … sajiannya sungguh menakjubkan. Dalam artian, panorama pelanggi yang memantik, mengelitik bahkan memaki sikap kita yang kurang cerdas terhadap pendidikan. Dimana-mana, kapan saja, teriak-teriak pendidikan harus diutamakan. Kenyataannya?
Sekalipun UUD meamarkan anggaran pendidikan minimal 20% di APBN/ABPD, eksekutif dan legislataif mana di Indonesia yang mampu mempraktekkan. Kalau disimak lebih jeli, hari-hari kita diteror berita pembelian mobil, kunjungan kerja sampai tunjangan rumah yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Saya telah 22 tahun mendosen, bergaji Rp.2 juta per bulan. Sampai kiamat pun rasanya sulit pemerintah ‘membelikan’ rumah dinas, apalagi memperjuangkan tunjangan perumahan sampai Rp.6 juta segala. Lebih meprihatinkan lagi tentunya nasib para guru. Saya menerima nasib sebagai PNS dengan satu tekad, dimanapun, kapanpun akan bersuara lantang, agar sekolah-sekolah diperbaiki dan mutu pendidikan diperhatikan.
Pada posisi demikian, buku Wahyu layak dibaca agar urat malu kemunafikan sikap terhadap pendidikan, banyak sedikit, berbuah kesadaran. Mana tahu nanti ada yang berani meneliti, bagaimana mungkin mempercayakan penanganan pendidikan kepada mereka yang tidak terlihat komitmen nyatanya. Kalau yang mengurus pendidikan punya rumah berbuah-buah, bermobil keren, sementara sekolah-sekolah di wilayah kerjanya hampir ambruk, sungguh isyarat sangat tidak sehat. Selamat buat Wahyu yang berani membeber kenyataan.

Pakar ‘Seminaris’Bab Kepemimpian dan Generasi Muda (4), Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (5) dan Keluarga dan Masyarakat (6), jelas-sejelasnya bukanlah sebuah sajian yang padu. Artinya, memang memproklamirkan buku ini berasal dari kumpulan karangan yang bertebar disana-sini. Harap maklum, Wahyu adalah seorang ‘seminaris’ cukup populer di Kalsel. Dia sering didaulat menjadi pembicara dan pemakalah.
Nampaknya, Wahyu berkemauan keras menerbitkan buku dari puluhan karya tulisnya, bukan direncanakan dari awal. Saya juga, kumpulan karangan. Bedanya, saya menghimpun utuh, Wahyu mengedit dan menjadikan ‘baru’. Dari situ sajian menjadi melompat-lompat, berasa nano-nano, dan kadang menggemaskan.
Misalnya hal politik lokal yang disajikan tiga halaman, ketika kami berbincang di STIENAS Banjarmasin, ditantang Bambang Subiyakto, Si Pemikir itu, mampu ngak dijadikan 15 halaman? Kalau Wahyu mampu sungguh sangat berharga.
Maksud saya begini. Pada setiap halaman, ada saja ide hebat tersaji. Semula menghitung, belum separuh buku sudah sampai 100 ide, karena itu tidak usah dihitung. Disitulah kekuatannya. Kalau apa-apa yang tersaji dikembangkan, sungguh bagus.
Hanya saja, mentransfer ide-ide menjadi buku, bukan pekerjaan gampang. Perlu waktu, ketekunan, dan dana. Bagaimanapun, Wahyu menampakkan, menjadi Doktor itu perlu menulis buku. Saya pernah katakan, kalau menjadi Profesor Unlam, terbitkan beberapa buku. Tanda intelektual itu pada karya, apakah buku atau penelitian.
Ke depan, mudahan saja, disertasinya diterbitkan. Saya pernah menganjurkan pada Rasmadi, Rektor Unlam, tolong sediakan dana untuk Doktor-Doktor Unlam menjadikan disertasinya buku. Lebih bagus, pejabat kampus, dari Ketua Program Studi, Dekan dan pembantunya, Rektor dan pembantunya, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian menerbitkan buku agar dicontoh ‘anak-buahnya’, dosen-dosen. Pasti akan menampakkan gensi Unlam sebagai lembaga intelektual.
Kalau boleh bercanda, dalam materi —kalau ide dan sajian sangat bagus— membaca buku ini ibarat belum ereksi, apalagi ejakulasi dini, sajian sudah berhenti. Salah saya, barangkali ketika menatap judulnya. Tapi, kalau dalam artian panorama ide, sungguh sangat kuat. Dalam bahasa sajian, kalau Wahyu mengambil kuliah saya, tidak segan-segan memberi nilai A.
Akhirnya, buku ini harus disambut positif. Bolehlah kita merindu, Doktor, Profesor dan pejabat birokrasi kampus apabila mampu membuat satu buku dalam setahun, sungguh kontribusi besar bagi pengembangan kepustakaan. Bisa-bisa ratusan buku ‘lahir’ dari rahim intelektual Kalsel. Ngak usah deh bangga tidak menulis buku. Jangan pernah (lagi) memberi alasan untuk tidak menulis buku. Alasan adalah musuh berkarya.
Selamat Wahyu. Mudahan ke depan, intelektual kita mengurangi sedikit waktu diskusi atau seminar, alihkan menulis buku. Tapi ingat, buku akan memperlihatkan kemampuan intelektual sesungguhnya, karena tertulis. Kalau ngomong, begitu selesai, akan ditelan udara, hilang tak berbekas.
Bagaimana menurut Sampeyan?.

About these ads

About this entry