Sudah pindah ke www.webersis.com
Sudah pindah ke www.webersis.com
About this entry
You’re currently reading “Sudah pindah ke www.webersis.com,” an entry on Ersis Warmansyah Abbas
- Telah Diterbitkan:
- 23 Maret 2006 / 5:33 pm
- Kategori:
- Pendidikan
- Tag:
Sudah pindah ke www.webersis.com
You’re currently reading “Sudah pindah ke www.webersis.com,” an entry on Ersis Warmansyah Abbas
Ada kata-kata EWA, yang kepada Beliau saya pernah berguru, yang saya ingat betul. Jar sidin, “Orang yang maju itu adalah orang yang menyimpang dari pola umum alias abnormal”. Dipikir betul juga. Umpamanya, pada umumnya banyak orang tidak sepandai EWA dalam menulis dan itu bisa disebut sebagai “normal”, sedang yang piawai menulis yang jumlahnya tidak banyak berarti di luar kenormalan (abnormal). Pak Ersis, termasuk yang “abnormal” karena hanya sedikit yang mampu seperti beliau itu. Kita berharap Pak Ersis tetap menuangkan tulisan-tulisan yang “mencerahkan” itu, diikuti oleh banyak penulis lainnya. Harapan saya kepiawaian menulis Pak Ersis yang semula dianggap “abnormal” menjadi sesuatu yang “normal” karena dipunyai banyak penulis produktif lainnya di banua.
Ahh.. “menulis” bagi sebagian orang memang mudah, bahkan mungkin teramat mudah.
Yang paling sulit adalah menyesuaikan apa yang dituliskan (-dan juga diucapkan) dengan hati dan perilaku kita yang sesungguhnya. Karena hanya kita yang dapat mengetahuinya, sesungguhnya sudah sesuai ataukah belum. Disinilah bedanya penulis yang baik dan tidak. Yang seharusnya dicari dan dirujuk oleh orang adalah para penulis yang jujur dengan perilakunya, bukan para “licker” dan “lier”.
Kalau bisa menyesuaikan, masih mau menulis Sis ?
Bagaimana menurut Sampeyan ?
Menulis memang mudah, mengkritik pun juga mudah bagi anda.
namun dimana sampeyan disaat kami para guru tertindas oleh penguasa pada saat mutasi massal guru. apalagi anda saat itu menjabat sebagai ketua komite sekolah SDN sungai besar 2. dimana suara anda, dimana kritikan anda, tidak terdengar sama sekali. Apakah karena anda berlindung dibalik penguasa, atau karena anda banyak memiliki kepentingan dengan mereka, jadi sampeyan kehilangan suara..?
memang sulit menyesuaikan apa yang anda sering tulis dengan hati/perasaan sesungguhnya.
Menulis memang mudah, mengkritik pun juga mudah bagi anda.
namun dimana sampeyan disaat kami para guru tertindas oleh penguasa pada saat mutasi massal guru. apalagi anda saat itu menjabat sebagai ketua komite sekolah SDN sungai besar 2. dimana suara anda, dimana kritikan anda, tidak terdengar sama sekali. Apakah karena anda berlindung dibalik penguasa, atau karena anda banyak memiliki kepentingan dengan mereka, jadi sampeyan kehilangan suara..?
Dalam menulis tidak beda juga dengan… orang yang makan. siapa yang tidak bisa makan kecuali yang sakit atau yang tdak nafsu makan.
Jadi kalau ada yang bilang “menulis itu sulit” itu bukan berarti jelek, dia banyak berpuasa. Mungkin lebih selamat daripada orang yang banyak ngomong.
bukankah ada pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”
bener juga yaaa
“manusia tdk dilahirkan bodoh, yang ada, orang yang membodohi diri, memperbodohi diri dan … mau diperbodohi’
ampuuuuun baru nyadar aku
kalo bisa tolong bantu saya menemukan artikel mengenai teori-teori membaca dan hubungannya dengan koleksi yang ada di perpustakaan. mengingat orang jarang mengunjungi perpustakaan, padahal disana terdapat banyak sekali buku-buku. mengapa orang tidak ingin membaca ke perpustakaan???
Kenapa guru-guru nih mempermasalahkan mutasi masal. Bukan saya membela ERSIS. Tapi nyata. kerja bertahun-tahun dengan kondisi yang begitu-begitu saja, bagi saya peribadi sangat membosankan. Apalagi jika kepala sekolahnya itu-itu juga. Apa nggak mati tuh kreativitas?
Buat Bang Ersis, jalan terus.
Saya malah heran kalau ada guru nggakmau dimutasi. Ya katak dalam tempurunglah yang begitu. Merasa hebat tapi tidak teruji di tempat lain. Termasuk masalah Ujian Nasional. Setelah membaca penjelasan Jussuf Kalla di media massa, saya jadi mendukung UN. Karena seleksi siswa di PTN bukan atas dasar nilai, tapi atas dasar seleksi secara nasional. Kalau nilai kan bisa dibuat berapapun. Guru kok yang punya kewenangan untuk itu. Kita juga harus menyadari, bahwa kemampuan kita, para guru, jujur saja, masih memalukan. Semestinya kita mau berkaca dengan orang yang mau membaca apapun.
Kita, para guru lebih banyak yang lihai “bakesah”. Padahal kesahan itu jika ditulis, akan menjadi Si Palui, atau yang lainnya. Hebat sebetulnya orang Melayu nih. Energinya banyak untuk bicara. Kan mudah tinggal mengalihkan apa yang dibicarakan menjadi apa yang dituliskan.
Bang, makasih SMS-nya. Hanya SMS yang pertama belum sempat kuresapi, sudah terlanjur dihapus. (Ngantuk sih).
[...] pembenaran yang benar. Sebenar teori berak yang saya baca di blog Pak Urip. Aslinya itu teori dari Pak Ersis, tapi tulisan aslinya tak berhasil saya temukan karena telah pindah alamat ke tempat [...]
betul, tidak ada manusia yang lahir pakai pakaina lengkap bang. telanjang semua, tinggal usaha untuk cari pakaiannya saja yang berbeda tiap manuasia
bang ersis, saya penulis pemula yang ndak punya modal kecuali kemauan aja bang
tips dunk?
XHTML: Anda dapat menggunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Ersis Warmansyah Abbas (EWA) tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Resminya bekerja sebagai dosen di FKIP Unlam Banjarmasin. Di luar itu, aktivitasnya sebagai penulis dan peneliti cukup dikenal.
Selain petambak ikan dan peternak ayam, EWA adalah Presiden Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan (LPKPK) dan juga Direktur South Kalimantan Educational Policy Institute (SKEPI).
& Komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]