Pendidikan ”Penipuan” dan Karya Nyata

SEMUA orang adalah pendidik. Apakah pada statusnya sebagai orang tua, anggota masyarakat, apalagi yang berprofesi sebagai pendidik, guru atau dosen. Sayangnya, dalam pemahaman kolektif, terbiasa sudah pendidikan ‘ditimpakan’ kepada guru dan dosen. Padahal, pemahaman sedemikian terbatas pada katup pendidikan formal.

Sejatinya, pendidikan yang berintikan interaksi antara pendidik dan peserta didik (siswa/mahasiswa) dalam mencapai tujuan-tujuan pendidik, interaksi itu dapat berlangsung dimana dan kapan saja. Interaksi pendidikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sampai muncul istilah long life education.

Sebagai manusia, pada tahap awal seseorang mendapatkan pendidikan, pertama-tama di lingkungan keluarga. Fondasi-fondasi pendidikan dibangun sejak terjadinya interaksi di keluarga. Bahkan, para pakar memahami justeru lebih awal lagi dengan apa yang kita kenal dengan pra natal, sebelum lahir, sejak semasa di kandungan ibu.

Sekalipun perhatian tercurah, bahwa kebeberhasilan pendidikan seseorang lebih dipahami dari apa yang didapat dari pendidikan formal, dalam studi-studi kependidikan justeru ada simpulan, keberhasilan pendidikan banyak ditentukan oleh apa yang didapat dari keluarga. Kalau peserta didik berasal dari keluarga yang kurang paham hakekat pendidikan dengan situasi dan kondisi kurang kondusif maka anaknya cenderung berkembang tidak maksimal secara pendidikan.

Anak dan Ibu
Setiap manusia yang lahir —ibarat komputer— telah dibekali oleh Allah SWT dengan 1 milyar sel otak. Jaringan sel otak yang begitu komplek dan dapat berkoneksi dalam puluhan ribu antar sel, dapat dikatakan masih ‘kosong’. Harkdisk yang belum diisi program ataupun dokumen. Dalam bahasa agama: Bahwa sesungguhnya manusia itu dilahirkan ibarat kapas yang putih bersih (fitrah). Ibu Bapaknyalah yang menjadikan dia Nasrani, Yahudi atau Zoroaster. Kita tidak membahas hakekat fitrah. Pencuplikan dimaksudkan sekedar memberi gambaran.

Sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, isian-isian pertama adalah di keluarga. Kita yakin saja, tidak seorangpun yang akan berusaha, bahkan membiarkan saja tidak mungkin, memberi yang buruk buat anaknya. Semua orang pastilah bertekad dan yakin, memberikan (pendidikan) terbaik untuk turunannya. Pertanyaannya, apa iya sih?

Sejauh pengamatan dan pengalaman, selintas pintas, bisa jadi. Tapi, kalau diselami lebih dalam, sengaja atu tidak, dimaui atau bukan, disadari atau dilupakan, pada ranah praktek, banyak hal-hal ‘kecil’ terabaikan yang pada intinya, tidak baik bagi pendidikan anak. Senagaja saya pakai istilah ‘penipuan’ untuk sekedar gugahan, bukan pada taran kebenaran.

Alkisah, seorang Ibu yang teramat sayang pada anaknya yang masih balita, bermaksud sangat mulia, ke pasar membeli susu … untuk anaknya. Maklumlah anak kecil, tentu saja ingin selalu bersama Sang Ibu. Mau dibawa hari panas. Takut anaknya kepanasan yang bisa berakibat sakit. Lalu apa yang dilakukan?

Sang Ibu mengajak kakaknya (atau siapa saja di rumah) mencandai Sang Anak. Gembiralah dia. E … tiba-tiba Si Ibu ke belakang lalu ngeloyor pergi diam-diam ke pasar, membeli susu. Apa yang terjadi? Terang saja begitu ingat Ibunya, menangis sejadi-jadinya. Hebohlah seisi rumah tangis si anak tak dapat dikendalikan. Kejadian serupa, dalam intesitas makin tinggi, berlangsung tanpa disadari sampai dia bersekolah.

Prilaku Bohong
Pada contoh di atas, selintas terlihat biasa-biasa saja. Emang biasa saja namun tidak dalam pandang pendidikan. Sebab, sedari kecil dia sudah dititipi prilaku menipu. Makin besar makin sadar bahwa ibunya ‘menipu’. Betapa tidak, untuk menghindar agar anak tidak menangis, secara diam-diam pergi begitu saja. Kenapa tidak dibiasakan berterus terang?

Misal sampeyan hendak ke pasar atau bekerja. Katakan saja mau ke pasar atau bekerja. Sebelum dia mengerti apa itu arti ke pasar atau bekerja, begitu ditinggalkan, pasti dia tidak terima, menangis. Naluri anak-anak ingin selalu dekat dengan orang tua. Jangankan manusia, binatang saja demikian.

Mula-mula dia akan menangis. Biar saja. Tapi, lama-lama dia akan mengerti, bahwa Ibu perlu ke pasar untuk membeli bahan keperluan untuk makan keluarga atau bekerja agar dapat uang untuk menghidupi keluarga. Di otaknya akan ‘tertanam’ setiap orang perlu bekerja demi kelangsungan hidup. Bekerja itu penting untuk semua manusia karena dengan bekerjalah seseorang dapat hidup yang benar. Bandingkan kalau dia ‘ditipu’ agar sekedar tidak menangis.

Bandingkan pula misalnya, kalau anak kita meminta sesuatu sedangkan kita tidak punya uang, misalnya, jujur saja katakan, tidak punya uang. Bapak bekerja dulu ya agar dapat uang, dan ketika uang diperoleh ya penuhi permintaannya. Jangan sampai, dijawab dengan marah-marah (Anda menamkan sifat marah) atau dengan sumpah serapah tidak punya uang atau orang miskin (Anda menanamkan sifat minder).

Dimensi pendidikannya sangat jelas. Bapak tidak punya uang, jadi Bapak bekerja dulu. Di otaknya akan tertanam, untuk membeli sesuatu diperlukan uang. Untuk mendapatkan uang, perlu bekerja. Itu pulalah sebabnya, lebih bijaksana membicarakan segala seuatu dengan anak sebelum memberikan. Kalau sampeyan membiasakan memberi langsung apa yang diminta, di otaknya tertanam, begitu mudahnya hidup. Nantinya, Anda akan kerepotan dengan tingkah anak yang manja.

Pendidikan dan Parkir
Pada suatu rapat Komite Sekolah, teman saya Ogi Fajar Nuzuli, mengeluarkan statemen mengangetkan plus menggugah kesadaran. Menurut Magister Evaluasi Pendidikan dan (sebentar lagi) Magister Administrati Publik ini, kita ini tidak adil terhadap pendidikan. Apa pasal?

Saya tidak tahu kronologis persitiwanya. Kira-kira kesal melihat sikap beberapa ‘teman’ tentang iuran Komite Sekolah. Bagaimana tidak, untuk menetapkan partisipasi orang tua guna mengenjot sarana dan parasarana serta kualitas SMPN 1 Banjarbaru, berbantah-bantahan dengan argumen luar biasa alotnya. Padahal, Komite Sekolah hanya menargetkan iuran Rp.35.000-Rp.40.000 per bulan.

Sebelumnya kami telah mendiskusikan, SMPN 1 Banjarbaru harus ‘ditolong’ agar bergerak dari sekolah standar nasional (SSN) menjadi sekolah standar internasional (SSI). Pada tahun 2010 sekolah itu menjadi sekolah terdepan di Kalsel. Secara fisik gedung, sarana dan prasarana sekolah ‘wajib’ ditingkatkan. Kami menghitung, minimal diperlukan dana Rp.2 milyar.

Gambaran kami, seluruh gedung ditingkatduakan hingga seluruh ruang yang diperlukan terpenuhi. Sistem IT tidak boleh tidak menjadi kebutuhan pokok. Ditinjau dari SDM dan prestasi sekolah, kiranya tidak ada halangi lagi. Tapi, kalau mengharapkan pemerintah saja tidak mungkin. Partisipasi bersamalah jawabnya.

Nah, ada saja yang ngotot, iuran itu terlalu tinggi, kalau bisa Rp.20.000 saja. Tentu sah-sah saja. Namun Ogi memberi illustrasi, setiap kali Ibu (Bapak) ke pasar membayar parkir speda motor/mobil Rp.1.000. Sebulan, ya Rp.30.000. Bandingkan, kita menitipkan anak untuk didik di sekolah berkualitas dengan ‘berpartisipasi’ Rp.35.000 saja masih mengeluh.

Logikanya, bagaimana kualitas prima pendidikan dituntut? Kita menitipkan pendidikan anak-anak ke sekolah bagus sepantar membayar parkir. Ah, saya tidak mau ‘membahas’ di otak. Ogi sampai berkata: “Saya tidak mampu mendidik anak sendiri dan karena itu ‘menyerahkan’ pada SMPN 1 Banjarbaru. Karena sekolah ini berkualitas, mau membayar sesuai tuntutan”.

Saya mengambil dimensi pendidikannya saja. Makanya ketika mendidik siswa-siswa SMPN 1 Banjarbaru dalam jurnalistik ditekankan, menerbitkan tabloid (sudah di launching 25 September 2005) tidak gampang tapi pasti bisa kalau kalian berbulat tekad. Mereka bersemangat sekalipun orang tua tidak mau (belum kali ya) membantu secara finansial. Yang ingin saya ‘ajarkan’ untuk berbuat sesuatu itu perlu dana, Allah SWT tidak mungkin menurunkan secara langsung dari langit.

Ndilalah, sampai terbit tidak speserpun dari sekolah, Komite Sekolah dan orang tua (kecuali seorang) yang membantu. Namun saya yakinkan, kalau sudah terbit, nanti pasti ada yang berpartisipasi. Alahamdulillah, para alumni setelah melihat tabloid Esensabebe, ada yang berapartisipasi. Buktinya, beberapa orang telah berkomitmen.

Kini mereka ‘mendidik’ diri sendiri, apabila ada hasil karya yang membanggakan dan dibanggakan orang lain, dana datang dengan sendirinya. Jadi, cuekin saja orang yang berhitung ini-itu, membahas sampai melemahkan semangat, padahal berpartisipasi nol. Pendidikan harus dimulai dari diri sendiri bukan dari berdebat.

SMPN 1 Banjarbaru adalah satu-satunya sekolah di Kalsel, mungkin juga di Indonesia, yang memiliki tabloid. Tabloid untuk mendidik siswa-siswa menyalurkan gagasan, menebar ide, menampakkan karya, menampilkan kebanggan di usia dini dan seterusnya. Itulah bukti bahwa adakalanya anak-anak ‘ingusan’ bisa berkiprah lebih baik dari para sepuh manakala dilakoni.

Apalagi, pendidikan diperuntukkan bagi persiapan kehidupan masa depan yang sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Adalah kebodohan memahami pendidikan dalam bandingan saat ini. Kehidupan anak-anak di masa depan tantangannya sangat komplek dengan kompetisi ketat. Tugas kita meluncurkan anak panak kehidupan anak-anak kita ke masa depan. Kehidupan tidak tertambat di masa lalu, kata Khalil Gibran.

Bagaimana menurut sampeyan?


About this entry