Pengadilan Oemar Bakry

Siang itu, suasana ruang sidang pengadilan negeri Seberang Lautan begitu mencekam. Sidang yang dipimpin hakim ketua Ratul SH dengan hakim anggota Rapal SH dan Rupil SH, MH, semula diprediksi berjalan mulus. Pada sidang sebelumnya, Oemar Bakry, S.Pd. sebagai tertuduh, tidak pernah membantah BAP yang diajukan kejaksaan berdasarkan penyidikan kepolisian.

Saksi-saksi tidak seorangpun yang meringankan. Penasehat hukum Oemar Bakry tidak pula ‘hidup-hidup’ membela. Nampaknya, sesuai tututan jaksa, Oemar Bakry akan divonis hukuman maksimal 25 tahun penjara. Kasusnya penyelewengan dana pembangunan sekolah unggulan Dunia Baru. Tidak tanggung-tanggung, dari dana pembangunan sebesar Rp.100 milyar, Rp.50 milyar dituduhkan diselewengkan Oemar Bakry.

Atas pertanyaan dewan hakim, Oemar Bakry selalu menjawab: “Tidak tahu”. Kalau pertanyaan lebih didalamkan, dijawab: “Saya tidak tahu menahu, Pak”.

Tentu saja membuat hakim kesal: “Saudara ini bagaimana. Sebagai pihak yang bertanggungjawab atas proyek pembangunan sekolah Dunia Baru, selalu menjawab, tidak tahu. Ingat ! Saudara telah disumpah untuk berkata jujur”.

Walaupun suara hakim meninggi, Oemar Bakry tetap saja menjawab: “Sungguh Pak Hakim. Saya tidak tahu. Saya telah jujur. Yang mengerjakan kontraktor, PT Bumi Bergoyang pimpinan DR (HC) Fulus Money”.

***

Susana berubah ketika hakim mengajukan pertanyaan terakhir kepada pembela, Lantunan SH, MH.

“Saudara pembela, apakah masih ada yang akan saudara utarakan?”, tanya Ratul sembari menyiapkan palu pertanda keputusan segera akan diambil.

“Saya tetap pada pendirian. Pengadilan ini telah cukup bukti untuk membuktikan Oemar Bakry menyelewengankan dana pembanguan sekolah Dunia Baru. Saya tidak bisa membela lagi. Oemar Bakry tidak kooperatif. Silahkan Pak Hakim mengambil …”.

Belum lagi Lantunan selesai melakukan pembelaan terakhir yang tidak membela, tiba-tiba, seorang berbadan tegap berdiri bicara lantang sambil mengebrak meja.

“Tidak masuk akal. Ini bukan pengadilan. Ini komedi pengadilan”.

“Saudara tidak berhak dan tidak diminta bicara. Diam dan duduk di tempat”, bentak Rutul.

“Tidak bisa. Saudara-saudara, pencemar pengadilan”, katanya lebih lantang dengan badan bergetar menahan emosi. Suasana menjadi gaduh. Tiba-tiba suara lembut tetapi tegas memecahkan kegaduhan.

“Saudara Hakim Ketua. Ada baiknya didengar saudara ini” sambil menoleh kepada orang berbadan tegap dan bertato, “Siapa nama saudara?”.

“Hakal”, jawabnya dengan suara yang masih lantang.

“Tapi, Pak, ini di luar prosedur tetap …”.

“Biar saja. Sebagai buah reformasi, tidak ada salahnya kita mereformasi prosedur pengadilan”.

Rupanya, Ratul tidak membantah lagi. Harap maklum, yang bicara adalah Dr. Aliman, S.H. M.H, Ketua Pengadilan Seberang Lautan.

“Silahkan saudara, Hakal”, katanya ogah-ogahan.

“Tidak masuk akal Pak Oemar Bakry melakukan penyelewengan, korupsi. Beliau orang yang sangat sederhana. Saya tahu persis kejujuran Beliau. Beliau pendidik yang berkehidupan sederhana. Jangankan menyelewengkan uang Rp.50 milyar, membeli sepeda motor bekas seharga Rp.3 juta saja tidak mampu. Kemana-mana pakai sepeda pancal kumbang. Begitu sejak saya menjadi murid Beliau, sampai sekarang. Tidak ada yang berubah”.

“Bukan disitu fokusnya”, sergah Ratul dengan amarah memuncak karena merasa digurui dan diintervensi.

“Tapi begitulah kenyataannya. Beliau korban persekongkolan”.

“Maksud saudara”, badan Ratul yang tambun terangkat pertanda kemarahan.

“Seperti Pak Hakim, Sempoyongan, begitu juga penyusun BAP, dan penuntut, dan pembela, kan sama-sama mantan murid Pak Oemar. Kita sama-sama mantan murid beliau”,

“Tidak ada korelasinya”, Ratul memotong.

Tidak mau kalah Hakal balik memotong: “Justeru disitu masalahnya”.

“Saudara ngawur. Bisa-bisa saudara dituntut karena mengacaukan jalannya persidangan”, Ratul mengamcam.

“Bapak Hakim, penyidik dan penuntut, Sempoyongan dan pembela, kan dulunya murid Pak Oemar?”

“Saya memperingatkan saudara”.

“Bapak-Bapak dulu, dua puluh tahun lalu, kan pernah diskor Pak Oemar karena menggelapkan uang OSIS”.

“Cukup”, kata Ratul sembari mengebrak meja.

“Ini pengadilan balas dendam. Saya di-DO, di keluarkan dari sekolah karena dituduh menggelapkan dana OSIS. Hakimnya waktu itu kan paman Pak Hakim. Padahal, saudara-saudara yang bersekongkol. Kini saudara akan menjerumuskan Pak Oemar. Tidak akan pernah saya biarkan.”

Kesabaran Ratul sampai pada puncaknya. Dengan suara bak auman harimau, Ratul memerintahkan security pengadilan: “Saudara Satpam, amankan orang ini”.

Perintah Ratul tidak diindahkan. Pak Satpam diam di tempat.

“Saudara Satpam. Amankan orang ini”, perintahnya dengan suara full bar.

Pak Satpam tidak mempedulikan. Malahan dengan keberanian yang entah dari mana datangnya, lelaki tegap bersenjatakan pentungan itu angkat bicara: “Tidak mungkin guru sejujur Pak Oemar melakukan korupsi. Saya muridnya. Beliau tidak pernah dusta”, katanya tak kalah garang.

Ruang sidang menjadi gaduh. Tetapi, tiba-tiba seorang lelaki yang rambutnya tinggal sedikit, memutih pula, angkat biacara. Dia adalah Dekan Fakultas Hukum Universitas Seberang Lautan. Penuh wibawa dia berujar.

“Saudara-saudara. Saya sengaja datang ke pengadilan ini, karena sejak semula mencurigai kasus ini. Saya tahu persis siapa Pak Oemar Bakry. Dan, tahu juga tack record pelibat persidangan ini. Mereka semua mantan murid saya. Saya yang menanda tangani ijazah mereka”.

Susana yang semula gaduh, menjadi tenang. “Saya telah melakukan penyelidikan diam-diam. Dan, nampaknya mantan murid-murid saya ini mengulang lagi kelakukannya. Dulu, ketika di fakultas, merekalah yang menggelapkan dana Dewan Mahasiswa. Saya mengampuni dengan harapan mereka memperbaiki diri. E … ternyata kelakuan mereka tidak berubah, makin menjadi-jadi.

“Saudara-saudara. Sebagai negara hukum dan karena mereka yang menakhodai perkara ini, biarlah kita terima apa yang mereka putuskan. Saya sudah berbicara dengan Dr. Aliman, S.H. M.H, akan meninjau keabsahan pengadilan ini”. Ucapan Prof. Dr. Tajimun, S.H.MH membuat suasana hening. Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing.

Tapi, tiba-tiba dari arah belakang, membahana suara … huuuuu … huuuuu … Lalu, ada yang membanting kursi. Lalu, ada yang melempar air mineral. Lalu mendekati meja hakim, menghampir penuntut, mendekati penyidik, Sempyongan dan pembela … Lalu, … buk … buk … bogem mentah dilayangkan.

Ketika polisi datang, penuntut, hakim, Sempoyongan dan pembela sudah babak belur. Untung saja nyawa mereka masih tertolong. Polisi malahan tertawa menyeringai memborgol kawanan ini. Pengadilan berakhir dengan kericuhan. *** Aku tersenyum geli-geli basah. Tugob —semacam komputer dinding— memberi catatan: Demikian cerpen bertajuk Pengadilan Oemar Bakry dari cerpernis tidak dikenal, ditulis untuk tidak dipublikasikan, 12 Oktober 2070. Tidak ada keterangan, apakah cerpen ini diangkat dari kisah nyata. Yang pasti adalah cerpen.

Tentu, bagi kami ini adalah sesuatu yang aneh, kuno. Kehidupan kami di tahun 2220 tidak mengenal yang namanya pengadilan. Dengan kemajuan tehnologi, tidak seorangpun bisa berdusta apalagi membohongi orang lain. Sistem kehidupan yang kami kembangkan dimana apa saja yang dilakukan seseorang langsung terekam di super memory negara. Kadang-kadang aku berkahayal, asyik juga hidup di jaman purbakala. Orang ‘bebas’ berkreativitas termasuk berbohong. Ah, dunia mereka adalah hiburan belaka. Aku bangga mengambil spesialis kebudayaan purba. Cerpen itu rupanya mengasyikan, bo.

Banjarbaru, 24 Maret 2005.


About this entry